Berani bermimpi (Dreaming) berani berbuat. Sebenarnya bermimpi itu bukan suatu hal yang salah atau bersifat buruk, namun Banyak orang yang hanya bermimpi tanpa adanya perbuatan. Mereka hanya bisa bermimpi dan bermimpi lagi, lalu dengan bangga merekapun membawa mimpi itu hingga ke liang kubur, Tanpa pernah mereka wujudkan dalam kehidupan yang nyata. Tragis memang, sedih memang, malang memang, serta keterlaluan memang.
Karakter manusia itu berbeda beda. Namun jangan salah praduga, kalau karakter yang buruk itu dapat diubah oleh orang itu sendiri, dari pengalamannya atau dari kegagalannya, dari apa yang pernah dia ketahui sebelumnya. Saya membagi karakter manusia itu dalam tiga jenis, diantaranya:
Ada orang yang memiliki mimpi selangit, namun karena tidak adanya keberanian untuk mengambil resiko, sehingga tidak pernah berbuat (Action) lalu merekapun menyerah
pada keadaan. pada akhirnya merekapun diam dan memulai bermimpi dan bermimpi lagi. Tragis memang, sedih memang, malang memang, serta keterlaluan memang.
Ada orang yang ingin mewujudkan impiannya dengan berani memulai, namun karena suatu kegagalan, merekapun diam kembali dan memulai bermimpi dan bermimpi lagi. Tragis memang, sedih memang, malang memang, serta keterlaluan memang.
Ada orang yang ingin mewujudkan impiannya. Ketika dia ingin memulai Ratusan bahkan ribuan kegagalan telah dia lewati, namun dia tidak pernah berhenti untuk berbuat. Kegagalan adalah kunci kesuksesan. Itulah semboyan yang selalu dia pegang.
Perlu kita ketahui kegagalan tersebut bukanlah kegagalan yang serupa yang diulang-ulang. Karena hal yang demikian tidak menjadikan kegagalan sebagai kunci kesuksesan, tetapi malah membuat kita berhenti. Jangan sekali-kali mengulang kegagalan yang sama, karena tanpa kita sadari hal itu membuat kita bosan untuk berbuat mengenai hal yang baru.
Dari ketiga karekter orang di atas. Tentu kita tau Karakter orang yang terakhir adalah karakter yang harus kita ikuti, karena kesuksesan berawal dari pengorbanan baik dari segi finansial ataupun non-finansial.
Pernahkah anda mendengar atau membaca wawancara dengan seorang yang benar-benar telah sukses? Tak lain dan tak bukan ialah JOKO SUSILO, seorang praktisi internet marketing yang paling berhasil. Seseorang yang memulai bisnisnya dari kecil sampai sekarang ini bisa menjadi orang sukses. Bahkan hasil yang diterimanya melebihi gaji dari anggota dewan bahkan yang korupsi sekalipun. Hehehehe bercanda, tapi serius lo saya telah membaca wawancara beliaw.
Sebenarnya masih banyak orang yang berhasil dan sukses dalam hidupnya melalui usaha yang mandiri dan banyak diantaranya berawal dari modal keberanian untuk memulai sesuatu hal, bahkan awalnya usaha tersebut tidak pernah di gelutinya bahkan diketahui sebelumnya. Namun dengan keberaniannya untuk berbuat, menjadikan di bertengger pada kesuksesan. Kemampuan berprestasi sering juga di sebut sebagai motivasi, orang yang berada pada karakter terakhir tadi menajdikan mimpinya untuk mendorong motivasinya untuk tetap berbuat tanpa pernah berhenti. Lalu anda tau apa yang dia dapatkan itulah kesuksesan, ya kesuksesan yang membanggakan.
Jika kita telah memiliki mimpi maka kita telah termotivasi untuk berbuat (Action). Ketika kita berada pada ruanga ini, tak lain dan tak bukan yang harus kita pikirkan adalah trik-trik khusus yang belum pernah dilakukan orang lain untuk memulai bisnis anda, bagaimana orang lain bisa tertarik dengan apa yang anda tawarkan, bagaimana orang lain menjadikan produk yang anda tawarkan sebagai sesuatu yang harus dia beli, dia pakai atau yang paling dia sukai. Untuk itu galilah pikiran anda dari yang pernah anda ketahui melalui yang anda membaca atau anda dengarkan terutama yang anda alami, sehingga anda tidak pernah jatuh kedalam lobang yang sama beberapa kali, hingga ujung-ujungnya berhenti lagi. Tragis memang, sedih memang,,.,..,.,.anda sudah tau kelanjutannya bukan???
Dengan demikian kita telah melawati sebuah tahap awal, sebuah tahap untuk mencapai kesuksesan. Karena kesuksesan bukanlah sebuah slogan belaka, tetapi suatu tujuan yang harus diraih.
Dalam hal ini anda bisa menjadikan orang yang patut di tiru seperti halnya Joko Susilo. Anda bisa menjadikannya sebagai cermin. Bagaimana beliau memulai bisnisnya hingga menjadi orang paling sukses dalam bidangnya. Joko Susilo adalah orang yang kreatif. Dia memiliki trik khusus bagaimana untuk memulai untuk bertindak. Lihat saja salah satu situs beliau seperti www.jokosusilo.com beliau memiliki trik-trik khusus, sehingga situs ini terus mendatangkan bangsa pasar yang tinggi, tempat dimana beliau memasarkan produk-produknya.
Untuk bisa menjadi orang yang seperti beliau awali dengan action, karena tanpa action anda tetap menjadi seorang pemimpi. Anda pastikan lagi ini bukan dunia khayalan bung! Ini dunia nyata, duania yang penuh dengan perbuatan.
Kunci yang paling terpenting sekarang adalah apakah anda berani untuk berbuat sekarang, detik ini, tanpa harus berlama-lama bermimpi lagi. Hayo saatnya bagi kita untuk beraksi, memulai tanpa pernah mengakhirinya di awal, tapi terus melaju menuju kesuksesan. Dekatilah tantangan dan mulailah menghancurkan tantangan itu. Kuatkanlah keyakinan anda kalau suatu saat apa yang anda perbuat hari ini akan menghasilkan pada waktu mendatang. Ingatlah kita semua dilahirkan untuk menjadi pemenang, bukan pecundang.
ACTION, ACTION dan ACTION. (Penulis Ferdinan De J Saragih)
Artikel ini diikutsertakan dalam kontes SEO Joko Susilo, jika anda tertarik untuk mengikuti kontes ini klik tautan ini www.jokosusilo.com
Sukses Selalu
Selengkapnya...
Stop Dreaming Start Action Now
Puisi Sumber Kebahagiaan
Mengapa saya menyebut puisi sebagai sumber kebahagiaan? Rainer M Rilke pernah berkata “bila hari-harimu tampak buruk, jangan salahkan Tuhan. Salahkan dirimu sendiri bahwa kamu tidak bisa puitis untuk mensyukuri kekayaannya. Bagi Tuhan tidak ada kemiskinan.
Perkataan Rainer M Rilke itulah yang membuat saya sadar akan puisi yang mampu memberikan kebahagiaan. Hal itu pula yang saya alami, ketika kesedihan melingkupi hidup, saya mencoba menuliskan beberapa kalimat kata yang mampu melukiskan kesedihan itu, maka kebahagian itu datang menghampiri. Ketika kebahagiaan menemui saya. saya kembali menuliskannya dalam beberapa kalimat, kebahagiaan itu semakin lengkap saja. saatitulah saya sadar bahwa puisi itu adalah sumber kebahagiaan buat saya, sepertinya buat sobat-sobat juga sama.
Salam Sukses
Ferdinan De J Saragih, seorang yang sedang dalam proses menulis. Blognya Raya Post di http://www.rayapost.blogspot.com/
Selengkapnya...
Puisi Ferdinan De J Saragih di Sindo II
Minggu Seputar Indonesia, 22 maret 2009
Madu Setengah Jadi
Pada akhirnya aku kembali lagi
Diatas pulau bermain layaknya dulu
Sayang kau rogoh saku
Tak ada yang kubawa dalam kantong
Datar. Perut yang kuisi sepuluh tahun silam
Masih tersisa darah di serupa ranting
Kering peninggalan
Jangan kau sayangkan waktu kepergian
Telah banyak kujilat tanah
Untuk kumuntahkan di pulau ini
Serupa kotoran musang
Dipelataran kebun kopi kita dulu
Berisi biji kopi unggul
lalu kubuat madu itu menjadi-jadi
Setia Budhi, 2009
kehilangan
Kalong telah menjatuhkan
buah pada rumput
Semutlah yang berkerumun menikmati
Begitu pula kau
Telah kujatuhkan pada daratan
bukan punyaku
Sedihku beku diantara hari lalu
Kala hujan
Panas terik
aku tak lagi atapmu
Kutahu kesunyian bersamaku
Disela kesalahan
Sampai merenggutmu dariku
Serupa mutiara Yang kubuang
Di samudera lalu
Bandung, 2009
Bingkisan Hujan
Hujan membukakan lama tak kupunya
Kehangatan mata diiklaskan dalam gerimis
Selembut dentingan dia rebahkan
Sebuah laut dalam mata yang kedinginan
Hujan mengembalikan yang lama hilang
Melukis sebuah raga menawan tubuh
Seelok angin di sela terik mentari
Kubungkam keheningan suara
Kuhancurkan wajah memudar
Bersamanya aku menimbun gema
Terbang layaknya sepasang kupu-kupu
UPI, 2009
Perang
Diantara rumah dan tembok sunyi
Kau lontarkan gemersik peluru
Semua keras
Bersemayam dalam ketidakberdayaan
Haruskah kematian mengetuk pintumu
Haruskah kematian mengutuk jiwamu
Keegoisan telah mengubahmu
Menjadi hakim kematian
Mencuri hak Tuhan
Yang kutahu berabad-abad silam
Setia Budhi, 2009
Kusta dan Sajak
Bersabung gelisah di dadaku lama
Organ yang lama kupakai menconteng-conteng kata
Bersuara tanpa lelah di media-media
Meleleh habis oleh kusta yang lama tertanam
Serupa gulma di tanah subur
Bukankah tanganku serupa air di antara kemarau
Lalu daun-daun tumbuh tanpa kerontang
Hingga hati tak terbakar oleh api dunia
Sungguh aku tak dapat lagi membajak sawah
Mengukir patung, bahkan menulis sajak
Layaknya semusim lalu
Tinggal menunggu kemusnahan raga
Yang tak kutahu kapan
Bandung, 2009
Duka dan Bahagia
;Tua Gatuh
Adakah terang setelah gelap Begitu pagi setelah
Malam, dukaku terlalu berat
Tak terjamah olehku
Apakah lusa dukaku bahagia
Embun itu telah beranjak dan berhenti menetes
Dunianya telah berbeda, embun itu
Tak akan menetes lagi ucap mereka
Aku telah lama sadar akan manusia
Mengimaninya layaknya Tuhan
Kini iman itu lesu termakan duka
Menyelimuti seluruh jiwa yang lama terbuka
Semua telah terlambat saja
Namun apakah sia-sia
Jika aku menyerahkan bunga-bunga
Kepada embun yang telah tiada?
Bandung, 2009
Ferdinan De J Saragih lahir di Sigodang, Sumatra Utara, 4 Desember 1988. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Penulis, blogger (www.rayapost.blogspot.com). Puisinya tergabung pada antologi Karnaval Kupu-kupu dan Penyair Muda
Selengkapnya...
Puisi Ferdinan De J Saragih di Sindo I
Minggu Seputar Indonesia, 23 November 2008
Mencintai Tanpa Alasan
Kau sering bertanya
Mengapa kau mencintaiku
Lalu kujawab
Aku mencintaimu tanpa alasan
Mukamu murung mendengarnya
kau tak mengerti maksudku
Kucoba menjelaskanya untukmu
Aku mencintaimu
Bila aku dapat merasakan aku ada
Aku merindukanmu tanpa batas
Cinta darimu telah mewarnai darahku
Kau lebih dari syair lagu atau sajakku
Bandung, 2008
Lupa Diri
Gedung-gedung megah dan kursi empuk
Kau hinggapi setiap hari
Terasa nyaman olehmu, bukan?
Makan dari keringat rakyat, jerit payahnya
Kau lupa, atau pura-pura lupa
Seribu janji yang kau sorakkan
Kau bisa duduk dikursi itu, Karena siapa?
Rakyat- rakyat yang kau bodohi
Tidak ada hati nurani, lalu lupa diri
Membebani rakyat kecil
Sadarlah, apa kamu lupa dunia akhirat?
Kelak membakarmu oleh api Neraka
Bandung, 2008
Sepenggal kemuliaan Petani
Aku dibesarkan oleh tanah-tanah Negriku
Tempat petani menguras tenaga
Memberikan makanan untuk masyarakat bangsa
Pekerjaan mulia itu selalu di emban
Petani-petani Negriku
Sesuatu yang tidak adil pikirku
Petani simbol kemiskinan
Direndahkan
Bayangkan jika petani mogok kerja
Mau makan apa masyarakat bangsa ini
Semua akan pupus
Kelaparan
Mati,
Mati,
Mati
Bandung, 2008
Sebatas Ungkapan
Suara-suara perubahan terucap bagaikan air mengalir
Menggugah segala pikiran rakyat jelata
Suaramu lantang memberikan suatu keyakinan
Tentang, adanya suatu perubahan
Hari itu kau terpilih menjadi komandan rakyat
Mengemban tugas begitu berat
Rakyat sangat berharap kau jadi palutan
Suatu perubahan, mereka nanti
Hari ini semua ucapan lantangmu termakan setan
Lenyap seiring berputarnya tujuan
Janji-janji itu sunyi tertinggal waktu
Hilang, ketika jabatan sudah ditangan
Setia Budhi, 2008
Bertiga telah tenggelam
Cinta itu indah
Jika terarah
Lurus mengiringi jalan-jalan
Tak ada labirin berkelok
Malam ini telah sirna
Bertiga terduduk
Oleh nikmatnya anggur merah
Oleng oleh karang nikotin
Kami terbelenggu diam
Cinta telah terbang
Dalam pikiran melayang
Hingga esok pagi
Cipaku, 2008
Keinginanku
Aku ingin dikenal segenap manusia
Ya, mungkin seperti seleb
Aku tidak ingin menjadi seleb
Aku ingin menjadi penyair saja
Penyair yang tidak dipandang sebelah mata
Membangun
Mengkritik
Dan tidak unjuk gigi saja
Sigodang, 2007
Ferdinan De J Saragih lahir di Sigodang, Sumatra Utara, 4 Desember 1988. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Penulis, blogger (www.rayapost.blogspot.com). Puisinya tergabung pada antologi Karnaval Kupu-kupu dan Penyair Muda.
Selengkapnya...
Kepada yang Terpilih
Lukisan Dunia
resapilah segala yang pernah ada
kenikmatan
kesenangan
kekayaan
tidak membuatmu puas bukan?
dunia
tidak ada kepuasan yang kekal
seperti halnya angin lalu
kau ingin tau
kenikmatan yang abadi?
tak usah curang
mencari kenikmatan di dunia
carilah kebenaran
kelak kau akan menemukannya
Setia Budhi, 2008
Pucuk Baru
ini diiklaskan oleh semesta
sebuah lembaran kemilau
putih menyerupai jubah malaikat
ternama sepanjang abad
kau tulis lalu mewarnainya
dari jejak malam setelah siang hari,
demikian serupa
pucuk baru seumpama
akankah kau berjalan lurus
atau menuju jalan berbelok
yang Lama
sudah kau lalui juga
pucuk baru ini juga akan menguning
menjadi tanah
dan pucuk baru akan muncul lagi
serupa lembaran kertas putih
Ruang Dunia, 2009
Ferdinan De J Saragih lahir di Sigodang, Sumatra Utara, 4 Desember 1988. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Penulis, blogger (www.rayapost.blogspot.com). Puisinya tergabung pada antologi Karnaval Kupu-kupu dan Penyair Muda.
Selengkapnya...
Nasehat Pendahulu
Apa yang dibutuhkan orang untuk menulis fiksi?. Riset? Pengalaman? Model tulisan? Mood? Imajinasi?
“duduk dan lakukan!”
Nasehat Josip Novakovich. Penulis fiksi kelahiran kroasia meraih sejumlah penghargaan penulisan fiksi di Amerika Serikat
PUISI IHSAN SUBHAN
LAUT, ERANGAN, DAN PARAGRAF OMBAK
Tuhan,
Ajari aku mengayomi bumi
Menerawang dengan mata dan hati
Ajari aku mencintai ruang seindah *Sereg
Agar tak tercemar dan sobek
Ajari aku memandang jauh sampai langit ke tujuh
Cakrawala yang berpautan dan samapi menyepuh subuh
Dan menatap sepucuk bintang yang menggodaku dan lama berkedip
Ajari aku memanjakan rembulan
Meninabobokan gugusan cahaya
Sampai terlelap di singgahan malam yang cacap
Tuhan,
Ajari aku menembus gelombang laut
Paragraf-paragraf ombak yang mendesir itu
Memintaku berselancar dengan sampan
Lalu kupancing hati agar lebih gerimis menyentuh samodra
Ajari aku mengasihi pesisir
Menyayangi pepasir
Menjaga teluk
Biar selalu kubesuk
Tuhan,
Ajari aku menyusun kembali riwayat pantai
Yang lama ternoda karena ulah
Ajari aku memindahkan keluasan jiwa biru
Pada segumpal darah yang kumiliki
Ajari aku menabiknya dengan sesantun
Laut yang sudah lama tersedu-sedu
Air matanya tersepai beradu
Tuhan,
Beri aku mata yang selalu memandang indah senja-senja
yang setia menyemai di tepi hari. Lalu
Beri aku melodi segar untuk menyimak
langkah camar di atas lautMu
Tuhan,
Ajari aku menelan setitik air mata
Ketika jauh, ketika rinduku padanya mulai bertempur
Maka mataku berbinar mengulum tafakur
Cianjur, Mei 2007
*Sereg, nama sebuah pantai yang terletak di Sindangbarang,
sebelah selatan Kab. Cianjur.
IHSAN SUBHAN, lahir di Cianjur 02 Desember 1987. Mahasiswa semester 5 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Suryakancana Kab. Cianjur Jawa Barat. Puisi-puisinya dibukukan dalam Antologi 9 Sastra Senja Penyair Cianjur “Selalu Ada Rindu” yang diterbitkan atas kerja sama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dengan Dewan Kesenian Cianjur (DKC) tahun 2006. “Setiap Menjelang Senja Mataku Tak Memandang Warna-warni Lagi Tapi…” keluar sebagai penulis kisah nyata terbaik tahun 2006, Penerbit buku Qultum Media, Jakarta. Sekarang masih aktif di Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) Kab. Cianjur dan menjadi pegurus Komite Sastra Dewan Kesenian Cianjur)
Alamat : Jalan Limbangan Sari No. 66
Rt.02 Rw.14 Kp.Babakan Tipar, Desa Limbangan Sari
Cianjur 43251 Jawa Barat
Mobile Phone : +62856 2477 4164
E-mail : ihsanhans@yahoo.com
Blog : http://ihsansdawai.blogspot.com
Cerpen Feri M. Syukur
SEMUT DI GEDUNG TUA
Laki-laki setengah tua. Lampau muda. Ketika uban sudah meraja. Kaca di mata menebal. Tungkai tak lagi tegak, merunduk. Mengerut. Mengecil. Kehilangan udara dalam dada. Timbul wibawa karena ketuaan, kemudian sedikit mengikis lagi wibawa itu. Jalan berderma setangkai kayu. Hampir layu. Tubuh itu, berdiri di ambang jendela. Menghadap gedung tua.
Kakinya bergoyang. Tak tentu kemana arahnya. Kursi di gesernya dengan tongkat. Namun, matanya tetap saja memandang gedung tua itu. Tak lepasnya sekejap mata. Orang tua yang sibuk dengan memandang gedung tua, seperti memandang lukisan abstrak para perupa. Atau semacam memandang bayi yang selamat dari sebuah kecelakaan maut.
Dari gedung putih, yang berlantai empat, di tambah taman kecil di ujung gedung, dan pendaratan helykopter, ia masih bisa berharap, nanti, esok hari atau masa depan sebelum ia menutup mata, orang-orang dalam gedung sebrang gedung putih sudah tak ada. Atau sekedar menghilang saja sejenak, sebelum ia menutup mata. Mati penasaran sebelum kandang semut itu menghilang.
Karyo namanya. Karyo Atmowiloto Cokro Bin Bimo. Keturunan jawa sunda belanda. Walau tanpa van di namanya, orang masih bisa melihat mancung hidungnya, atau mata biru yang menyala di malam hari. Seperti mata kucing yang mengintai mangsanya.
Tak banyak yang ia bisa lakukan. Dalam keadaan yang sempit ini, ia tak bisa berjalan keluar. Melintasi daun pintu, atau hanya menempelkan telinganya di dinding pintu, ingin mendengar luaran kamarnya. Atau sekedar untuk buang angin. Beli kopi. Beli mie. Beli kue. Garam. Baju. Celana dalam. Kutang istri. Atau semacam gincu untuk istrinya yang ke dua. Tak bisa lagi ia lakukan. Tak bisa. Sekalipun tak bisa apa-apa.
Karto panggilannya. Karto Atmowiloto Cokro Bin Bimo. Nama ubahan dari Sugeng Suharta. Anak buah Karyo. Lelaki kuasa yang tak bisa keluar rumah. Bahkan kamarpun ia tak bisa. Ketika tak bisanya itu, Karto kini bisa leluasa keluar masuk istana putih. Sebuah gedung bercetkan putih yang hadir dengan pagar mobil-mobil kaca. Berwarna-warni. Motor sekelas apapun tak ada. Di atas gedung itu yang di atasnya ad ataman kecil dan tanah bertuliskan H, ia bisa memandang sebuah gedung tua. Setua perkataan orang-orang tentang dirinya. Yang kokoh di terjang badai, hama dan juga semacam bom atom di Hirosima dan Nagasaki.
Dunungannya tak punya pekerjaan lain. Selain memandang gedung tua itu. Dia pernah berkata tentang kelakuannya itu, tapi Karyo tak menjawab. Ia tak bergerak sedikitpun mengenai itu. Kanapa ia selalu berdiri di sana? adakah yang aneh atau indah di sana? adakah kenangan yang tersimpan di sana? harapan mungkin? Semacam unek-unek? Atau segenggam kebencian? Karyo tak menjawab. Sampai akhirnya Karto tak lagi mau bertanya tentang gedung tua itu. Tentang kelakuan tuannya yang aneh.
I
Matahari di bibir hari. anak-anak bayi di paksa bermandi cahaya mentari. Memandang langit dan melahap vitamin yang tak bisa membuatnya kenyang. Mencuri-mencuri kekuatan. Dari tangan matahari yang selalu merayapi bumi. Dari liang semut, hingga liang kemanusiaan yang semakin menganga setiap harinya.
Seperti biasa, Karyo dan Karto datang bersamaan. Seperti amplop dan perangko. Guntur dan halilinar. Karyo, sang dunungan berjas, kemeja putih, celana katun. Bejalan santai dari dalam mobiolnya menuju pintu gedung putih. Karto, yang berjalan di belakang tak jauh berbeda, hanya saja karto berkaca mata hitam. Sehitam kulitnya yang legam.
“Kamu tahu gedung di sebrang sana?”
“Pentagon tuan?”
“Sudah lama saya mendengar bising-bising dari sana. seperti gergaji kayu yang siap membabat hutan.”
“Muangkin hanya perasaan tuan saja.”
“Perasaan pemimpin selalu benar. Benar pada hal-hal yang menyangkut kekuasaan!”
“Maksudnya?”
“Sering saya melihat orang-orang hitam itu membawa roti buaya ke balik bilik mereka. Saya takut kalau mereka akan berguru pada buaya-buaya, yang akhirnya tumbuhlah gigi-gigi tajam dari balik bibir mereka.”
“Kalau begitu, kita harus mengadakan rapat dadakan tuan?!”
“Kumpulkan sekarang juga orang-orang kita Karto. Kita akan mengadakan rapat dadakan yang tertutup!”
“Bagaimana dengan para preman? Apa harus juga kita undang?”
“Kamu jangan lupa, kalau mereka itu adalah anjing-anjing kita yang harus kita beri makan. Agar mereka mau menuruti perintah kita. Menjaga kita dan mengabdi pada kita.”
Sambil menutupkan pintu kerjanya, Karyo menutup pembicaraan hari itu.
II
Dari balik pentagon. Bersebrangan dengan gedung rektorat. Yang di antara mereka menghadang taman parterre. Beberapa pohoh beringin tua hidup diantara lantai-lantai keramik. Tembok pertahanan masing-masing dari serangan musuh. Bagi rektorat dari pentagon. Bagi pentagon dari rektorat.
Segerombolan semut berjalan masing-masing. Tetap saling sapa dan saling mewasiatkan. Seolah mereka menyimpan sebuah rahasia besat. Yang sangat besar tanggung jawabnya. Semut satu dan yang lainnya tak bisa berbagi senyum. Mereka berbicara dari tangan satu ke tangan yang lainnya. Hanya saling raba. Dari jala tangan yang berkeriangat, satu sama lain bisa menilai satu sama lain. Apakah dia kawan ataukah lawan.
Semua saling curiga. Junior dengan seniornya. Mahasiswa dengan dosennya. Dosen dengan jurusannya. Jurusan dengan dekannya. Dekan dengan rektornya. Dan rector dengan mahasiswanya.
Beberapa orang yang tertangkap sebagai status prasangka mata-mata tak bisa menghindar. Dari tajamnya pedang yang di asah oleh kebencian. Ketidak percayaan yang menggelayuti. Apalagi tersangka, yang tervonis dengan amarah, tak bisa selamat. Ruh yang abstrak sekalipun tetap harus merasakan sebuah kekejaman. Saling curiga.
Ketika orang-orang pentagon sedang asik membagi roti di meja permasalahan, mereka tak bisa menyembunyikan garis-garis muka yang menghitam. Karena benturan moral dengan kebijakan. Antara tanda tangan dan toa yang berteriak. Atau palu meja hijau dengan urat kerongkorangan yang menegang.
Daftar hadir di isi. Nama-nama tercantum sebagai pengikat. Agar kata dan laku mereka bisa di ikat. Seperti tali anjing yang melingkar di leher. Agar tak menggigit.
Satu, dua, tiga dan seterusnya kalimat berurai. Berjatuhan. Seperti hujan. Seperti daun di masa kemarau. Seperti buah mahoni yang berjatuhan dari pohonnya. Berputar. Menari. Memalingkan pahitnya biji dengan tariannya. Jatuh kejalan. Ke taman. Di atap rumah. Di kendaraan. Di tangan anak kecil. Di tangan orang dewasa. Menyentuh buku. Menyentu toga. Terinjak sepatu. Tergilas ban. Di makan burung. Masuk kolam. Satu sama lain tak saling bertemu. Sendiri-sendirinya berjalan.
Dari jauh. Di sebrang pentagon. Sepasang mata nyalang memperhatikan mereka. Gerak bibir berbicara di tafsirkan sebagai sebuah ancaman. Gerak tangan yang memutarkan pena berrubah menjadi panah yang siap melesat. Kertas-kertas seperti sebuah senjata yang akan menghukumi dirinya dengan segala tuduhan.
Karyo berbicara dengan seseorang di selulernya. Dengan sekali-sekali menelan ludah. Karyo berdiri dari kursinya, melewati meja dinas dan jas yang tergantung. Membuka jendela dan melemparkan pandangannya ke sebrang.
“Siapkan saja semuanya. Saya akan urus semut-semut kecil itu. Tak usah takut. Saya akan jamin kalau mahasiswa kami tidak akan turun ke jalan. Ya, semuanya tanggung jawab saya sebagai rektorat di kampus ini. Kalau mereka memaksa, maka akan saya paksa juga para dosen untuk menyembelih nilai mereka. Tenang saja pak. Bapak tinggal urus saja undang-undang pendidikan yang belum selesai itu. Bukankah undang-undang itu juga sangat penting untuk kepntingan kita? Orang-orang yang berpengaruh dalam dunia didik mendidik. Ya, saya mengerti. Bapak minta yang bagai mana? Ya, saya akan kirimkan dia nanti sore. Kebetulan hari ini dia ada kelas. Hingga tengah hari.”
III
Hari itu, di mana hari-hari yang berputar seperti meinggu kemarin. Tak ubahnya seperti mobil yang berjalan di jalan. Dari jauh menjadi dekat, dari dekat kemudia menjadi jauh, meninggalkan asap tebal di muka jalan. Hanya beberapa orang saja yang turun ke jalan. Semua mati. Di tembak para polisi. Teman-teman yang lain, yang selamat dari penculikan para aparat, menghilang. Tak di temukan jejaknya.
Hari sudah siang. Para mahasiswa hanya tersisa empat orang. Yang lain sudah pulang, teman-teman sembilan orang lainnya. Toa tak bisa lagi diandalkan. Hilang suara. Tiba-tiba saja terkena panas dalam. Serak. Kalau adapun tinggal jerit kesakitan. Hanya itu tersisa. Dari sebuah perjuangan yang saling cemburu. Curiga. Dan saliang terkam. Semut-semut malang yang tak bertuan. Kini hilang, tak punya kandang. Musnah menjadi arang.
Bandung, 2008
Feri M. Syukur, lahir di Bandung 25 Februari 1989. kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Kumpulan cerpennya tertuang dalam buku antologi bersama Peradaban Cinta, 2006. sekarang sedang merampungkan buku antologi puisi, drama, dan prosa Karnaval Kupu-Kupu. Bekerja sama dengan Rumah Akasia dan FLaSH BDG.
HP. 081323043909 Telp.(022)7502876 no.rek BNI 0133781152 a/n Feri Muhamad Sukur.




